Sabtu, 01 Oktober 2011

pendidikan anak dalam keluarga masyarakat melayu jurnaL

PELAKSANAAN AJARAN ISLAM TENTANG PENDIDIKAN ANAK DALAM KELUARGA MASYARAKAT MELAYU DESA TELUK LECAH KECAMATAN RUPAT KABUPATEN BENGKALIS

Oleh : Ramdani
SMP Negeri 3 Rupat Bengkalis
E.mail : rdhan75@gmail.com

Abstrak
Islam is a divine religion revealed by Allah Almighty to Prophet Muhammad, who provided al-Quran as a guide and way of life for Muslims who had faith, the Koran as a guide in outline has guide lines in regulating various aspects of the good in this economic, political, social, educational and there in education of children in families.The universal teachings of Islam whichteaches various aspects inlife,beit worldly or ukhrawi aspects. Islam also requires carrying out education, this command is not only learning but also teach it.
Kata Kunci : Pelaksanaa,Ajaran Islam ,Pendidikan Anak Dalam Keluarga


PENDAHULUAN
Islam adalah agama samawi yang diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw,yang dibekali Al-quran sebagai pedoman dan pandangan hidup bagi umat Islam yang ber iman,Al-quran sebagai pedoman secara garis besarnya telah mamberikan pedoman dalam mengatur berbagai aspek didalam kehehidupan ini baik itu,ekonomi,politik,sosial,pendidikan dan termasuklah didalamnya pendidikan anak dalam keluarga.
Ajaran Islam yang universal yang mengajarkan berbagai aspek didalam kehidupan,baik itu aspek duniawi maupun ukhrawi,ajaran Islam juga mewajibkan melaksanakan pendidikan, perintah ini bukan hanya belajar tetapi juga mengajarkanya.
Pendidikan merupakan pimpinan dan bimbingan secara sadar oleh sipendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani siterdidik menuju keperibadian utama (Marimba :1989 : 19 ).
Pendidikan juga merupakan usaha yang dilakukan oleh orang dewasa secara sadar untuk membimbing dan mengembangkan keperibadian serta kermampuan anak didik baik dalam bentuk pendidikan formal maupun non formal ( Arifin : 1977 : 12 ).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa didalam pendidikan itu terdapat unsur-unsur yaitu :
1. adanya usaha yang dilakukan secara sadar
2. adanya pendidik dan anak didik itu sendiri
3. adanya tujuan yang diharapkan
4. adanya alat yang dipergunakan
Tujuan dari pendidikan,menyiapkan anak supaya diwaktu dewasa kelak mereka cakap melakukan perkerjaan dunia dan amalan akhirat sehingga terciptanya kebahagiaan bersama,untuk itu anak harus diajarkan keimanan,akhlak,ibadah,dan isi-isi Al-quran yang berhubungan yang diwajibkan dan yang dilarang (Yunus dalam Zainuddin Dkk :1991:48 ).
Al-Ghazali( dalam ZainuddinDkk 1991:48) merumuskan tujuan pendidikan meliputi :

1. Aspek keilmuan , mengantarkan manusia senang berpikir,menggalakkan
Penelitian dan mengembangkan ilmu pengetahuan serta akan menjadikan manusia yang cerdas dan terampil.
2. Aspek kerohanian , yang mengantarkan manusia berakhlak mulia,berbudi perkerti luhur dan berkeperibadian yang kuat.
3. Asek Ketuhanan,yang mengantarkan manusia beragama dapat mencapai
Kebahagian dunia dan akhira.
Anak yang merupakan Amanah Allah yang dititipkan kepada mereka yang bergelar orang tua,oleh sebab itu orang tua bertanggung jawab supaya anak tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang bermanfaat untuk diri sendiri,keluarga,massyarakat serta agama.
Dalam mengemban amanah Allah yang mulia ini berupa anak yang berfitrah agama tauhidnya, harus dibina dan dikembangkan,maka orang tua harus menjadikan ajaran Islam sebagai dasar dalam pembinaan dan pendidikan anak agar menjadi manusia nyang bertakwa dan selalu hidup dijalan yang diridhoi oleh Allah.( Barmawi : 1993 : 5).
Mengkaji ajaran Islam tentang pendidikan anak dalam keluarga maka kita tidak terlepas dari sumber yang fundamental yaitu Al-quran dan Al-hadist.Didalam Islam tidak ada satu aspek pun yang tidak tersentuh oleh ajaran Islam,karena ajaran Islam itu merupakan “Way Of Life”.
Pendidikan pada dasarnya merupakan tanggung jawab orang tua sebagai pendidik pertama,Pendidikan Luqman terhadap anak-anaknya seperti yang diceritakan dalam Al-quraqn Surat Luqman : 12-19, mencerminkan pendidikan yang harus dilaksanakan oleh orang tua terhadap anak-anaknya Rakhmat dan Gandatmaja (1993 : 58 ) yang mencakup :
1 Pembinaan jiwa orang tua dan anak (12)
2. pembinaaan iman dan tauhid(13-16)
3. Pembinaan Akhlak(14,15,18,19)
4. pembinaan keperibadian dan sosial anak (17)
Atas dasar ini juga pendidikan anak dalam keluarga Merupakan suatu mata rantai dan sekaligus merupakan tanggung jawab orang tua terhadap anak-anaknya.Firman Allah Qs.At-tahrim:6 artinya : “Hai orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”(Al-quran dan terjemahan :1989:951).Qs.An-nisa :9 : Artinya “Dan hendahlah takut kepada allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatirkan kesejahteraan mereka.Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah merka mengucapkan perkataan yang benar”( Al-quran dan terjemhan:1989).
Masyarakat melayu dapat dilihat dari pengertian sempit maupun luas
Secara sempit adalah : Etnis yang berbahasa dan beradat istiadat melaayu dan beragama Islam.Secara luas yang dipakai oleh para antropologi yang memandang dari sudut asal muasal,yang mempunyai budaya melayu seperti yang terlihat dari bahasa,perilaku,karya,material dan peralatan maupun bentuk fisik dan lain (Hamidy dan Ahmad :1993:203).Senada pengerian pertama melayu identik dengan Islam hal ini terlihat dari ungkapan orang melayu:beragama Islam beradat istiadat melayu dan berbahasa melayu (Usman : 1993:111).Pada masyarakat melayu ada istilah yang sering diucapkan oleh orang melayu yaitu : “masuk melayu masuk Islam”dan dari unsur kebudayaan tercermin pepatah :”adat bersendikan syara’ dan syara’ bersendikan Kitabullah “(Sitanggang : 1991:2).Melihat falsafah orang melayu ini tanpak ajaran Islam begitu besar pengaruhnya terhadap kehiduoan oang melayu dengan kata lain,ajaran Islam telah melembaga dalam kehidupan orang melayu ( Nauquib Al-attas : 1990 : 1990 ).
METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini lokasi di Desa Teluk Lecah,dan objek penelitian untuk mengetahui Pelaksanaan Ajaran Islam tentang pendikan anak dalam keluarga masyarakat melayu,sedangkan sabjeknya adalah orang tua.teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini : observasi,angket,dan wawancara.Jumlah Sabjekpenelitian 273 KK,dengan menggunakan Quota Sampling,maka sampelnya 150 KK. Data dianalisa berdasarkan analisis diskriftif kualitatif.
PEMBAHASAN
Islam mengajarkan bahwa pendidikan itu berlangsung seumur hidup,sebagaima terdapat didalam Al-hadist :”Tuntutlah ilmu dari buaian hingga keliang lahad”.Konsep ini mengakui adanya kewajiban melaksanakan pendidikan dalam keluarga,karena pendidikan didalam keluarga ini merupakan pendidikan awal.(Zuhairani dkk :1992 :102).
Perlembagaan keluarga yang lahirnya adalah karena keperluan manusia untuk membangun generasi,maka lahirlah suatu generasi yang disebut lembaga perkawinan (Ibnu Santa dan Bolong :1986 :10).Lingkungan keluarga merupakan tempat pendidikan pertama karena sebahagian besar kehidupan anak berada dilingkungan keluarga,karena keluarga mempunyai peranan dan tanggung jawab yaitu : secara vertikal melalui melalui komunikasi dan dialog dengan Allah dan Secara horizontal berhubungan dengan manusia,sehingga ajaran islam memandang keluarga mempunyai tiga macam tanggung jawab;pertama:tenggung jawab kepada Allah,kedua:tanggung jawab kepada keluarga itu sendiri dan ketiga tanggung jawab kepada masyarakat,(Rakhmat dan Gandaatmaja :1993:22)

Prihal ajaran Islam tentang pendidikan anak dalam keluarga Ibu bapak dalam mendidik anak-anaknya,Athiah Al-Abrasy( dalam Barmawi :1993:12).Mengatakan mempunyai pengaruh yang sangat besar terutama :

1. Dalam bahasa dan gay a bicara dimana anak akan berbicara dalam
Bahasa ibunnya jika isi pembicaraannya baik maka baik pula pembicaraan
Anakanya
2. Dalam tingkah laku dan sopan santun dan pergaulan anak. Tingkah laku
yang baik diberikan contoh yang baik dari orang tua
Orang tua yang mempunyai tanggung jawab terhadap pendidikan anaknya untuk mempersiapkan menghadapi kehidupannya maka mereka dapat melakukan tanggung jawab (Nashih Ulwan : 1988:149). Sebagai berikut :
1. Tanggung jawab pendidikan iman
2. Tanggung jawab pendidikan akhlak
3.. Tanggung jawab pendidikan fisik
4. Tanggung jawab pendidikan intelektual
5. Tanggung jawab pendidikan fsikis
6. Tanggung jawab pendidikan sosial
7. Tanggung jawab pendidikan sexual
Cara yang diajarkan Al-quran seperti yang terdapat didalam Al-qurang surat Luqman (Daradjat : 1991:24)ada beberapa hal pokok tentang pendidikan terhadap anak yaitu:
1. Menanamkan jiwa tauhidkan
2. Menghargai dan menghormati orang tua
3. Memelihara dan memperlakukan orang tua dengan baik
4. Supaya mendiri shalat
5. Mengajak kepada perbuatan baik dan mencegah yang mugkar
6. Dilarang bersikap angkuh dan sombong
7. sederhana dalam bersikap
Langgulung (1986 : 374 ),mengatakan keluarga memegang peranan penting dalam hal pendidikan akhlak anak,sebagai institusi yang mula-mula sekali anak berinteraksi oleh sebab itu haruslah kelurga mengambil berat tentang pendidikan.Diantara kewajiban keluarga dalam hal ini adalah :
1. Memberikan contoh yang baik bagi anak-anaknya dalam berpegang teguh
Kepada akhlak mulia.
2.Menyediakan bagi anak,peluang-peluang dan suasana dan suasana praktis di
mana mereka dapat memperaktekkan akhlak yang diterima dari orang tua
3. Memberikan tanggung jawab yang sesuai kepada anak supaya mereka
bebas memilih dalam tindak tanduknya.
4. Menunjukkan bahwa keluarga selalu mengawasi mereka dengan sadar dan
bijaksana
5.menjaga mereka dari teman- teman yang menyeleweng dan tempat - tempat
kerusakan.


1.Anak yang diazan dan diiqomahkan setiap lahir .
No Alternatif Jawaban F %
1 Ya.setian anak yang dilahirkan 150 100
2 Tidak semua anak yang dilahirkan 0 0
3 Setiap anak yang dilahirkan tidak diazan dan diiqomakan 0 0
J u m l a h 150 100
Tabel diata menunjukkan bahwa orang tua masyarakat melayu Desa Teluk Lecah Kec. Rupat,Telah melaksanakan Ajaran Islam,yang disunnahkan oleh Nabi Muhammad atau yang disyari’atkan oleh ajaran Islam.Sebagai mana sabda Rasulullah Saw dari Abu Daud dan At-Tirmidzi dari Abu Rafi’(dalamNasshih Ulwan :1988:56) artinya : “Aku melihat Rasulullah menyuarakan azan pada telinga Al-Ali ketika Fatimah Melahirkan “.
Al-baihaqi dan Ibnu ‘sunni meriwayatkan dari Al-hasan Bin Ali (dalam Nasshih Ulwan : 1988 : 56 ) Nabi bersabda artinya : “barang siapa yang diberi anak baru lahir,kemudian menyuarakan azan pada telinga kanannya dan qamat pada telinga kirinya maka anak yang baru lahir itu tidak akan terkena bahaya”.
Ibnu Qyyim (dalam Barmawi : 1993 : 18 )menerangkan rahasia diazan dan diiqomatkan ditelinga anak sewktu dia lahir mengandung makna untuk mengaggungkan kebesaran Allah yang diiringi dengan kalimat syahadat sebagai pernyataan pertama seseorang sewaktu masuk Islam.
2.Keaktifan orang tua bercerita tentang masalah Ghaib
No Alternatif Jawaban F %
1 Ya.sering 21 14
2 Kadang-kadang 78 52
3 Tidak pernah 51 34
J u m l a h 150 100
Dari tabel diatas ,berarti masih banyak orang tua yang belum memahami berapa pentingnya penanaman keimanan(beriman kepada yang ghaib)terhadap anak-anaknya melalui metode bercerita ini.Pada dasarnya metode bercerita ini mempunyai pengaruh yang tersendiri bagi jiwa dan akal anak,karena dari metode ini akan dapat diambil pelajaran,Misalnya :Tentang sifat t uhan, malaikat, surge dan neraka dengan segala fungsinya.
Al-quran menggunakan metode bercerita tentang kejadian-kejadian masa lalu,agar menjadi tamsil dan pelajaran bagi manusia dan peneguh bagi Rasulullah Saw.Firman Allah ( dalam Nassih Ulwan : 1988 : 77) artinya :”Kami menceritakan kepada mu kisah-kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-quran ini kepada mu,sesungguhnya kamu sebelum (kami wahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui (QS.Yunus : 3).
3.Keaktifan orang tua mengajar anak membaca Al-quran
No Alternatif Jawaban F %
1 Ya.sering 33 22
2 Kadang-kadang 92 61,33
3 Tidak pernah 25 16,67
J u m l a h 150 100
Dari 150 KK yang dijadikan sampel ,dapat dilihat dari tabel diatas, ternyata masih kurang perhatian berapa penting mengajarkan anak membaca Al-quran ,apalagi masih ada orang tua kurang peduli tentang mengajar anak membaca Al-quran ini.terbukti kurangnya perhatian orang tua untuk mengajarkan anaknya membaca Al-quran . Ini terlihat masih banyak anak –anak masyarakat melayu Desa Teluk Lecah tidak mampu membaca Al-quran.
Kalau demikian permasalahannya,Orang tua sebagai tempat pendidikan yang pertama harus memperhatikan benar-benar pendidikan membaca Al-quran ini, jika sebagai orang tua tidak mampu dikarenakan ketidak tahuannya atau disebabkan kesibukan nya,maka sebagai orang tua menyerahkan anaknya kepada guru-guru yang mampu mengajarkan Al-quran,dengan syarat orang tua harus senantiasa mengontrol dan mengawasi kegiatan anaknya dalam hal mempelajari Al-quran.
4.Keaktifan orang tua membiasakan anak membaca Al-quran
No Alternatif Jawaban F %
1 Ya.sering 49 32,67
2 Kadang-kadang 75 50.00
3 Tidak pernah 26 17,33
J u m l a h 150 100
Dari tabel ini jelas jelas terlihat orang tua masyarakat melayu Desa Teluk Lecahr kurang perhatianya terhadap pentingnya pembiasaan membaca Al-quran kepada anaknya.Menurut penulis jika orang tua membiasakan anaknya untuk membaca Al-quran ini akan membuat si anak senantiasa akan menumbuhkan rasa cinta anak terhadap Al-quran,apalagi kebiasaan ini sering dicontohkan oleh orang tua.Dengan pembiasaan ini akan membuat anak lebih fasih,lancar dalam membaca Al-quran sehingga dapat memotivasi anak untuk lebih dalam mempelajari Al-quran.
5.Tindakan orang tua terhadap anak yang tidak mau belajar membaca Al-
Quran.
No Alternatif Jawaban F %
1 memukulnya 7 4.66
2 Menasehatinya 18 12,00
3 Tidak ada tindakan 125 83,34
J u m l a h 150 100
Kurangnya pemberian tindakan (hukuman ) terhadap anak yang tidak mau belajar Al-quran ,ini suatu sikap kurangnya perhatian orang tua dikhawtirkan anak akan jauh dari pada Al-quran apalagi ingin mengamalkan ajaran yang terkandung didalamnya.Al-Ghazali (dalam Barmawi : 1993 :35) mengatakan :”Bahwa mempelajari Al-quran merupakan Fardhu ‘ain (yang wajib diketahui setiap orang muslim )
6.Keaktifan orang tuan Menghindari anak dari perbuatan syirik
No Alternatif Jawaban F %
1 Selalu menjahuinya 24 16,00
2 Kadang-kadang 103 68,66
3 Tidak pernah menjahuinya 23 15,33
J u m l a h 150 100
Dari tabel diatas masih banyak orang tua masyarakat melayu Desa Teluk Lecah ini kurang perhatiannya untuk menjahui anak-anak dari perbuatan yang mengandung unsur-unsur syirik.Menurut hemat penulis penyebab kurang perhatian orang tua untuk menjahui anak-anaknya dari unsur-unsur syirik ( prektek pendudukan,tangkal-tangkal,tahyul )ini dipengaruhi oleh tradisi yang masih melekat didalam masyarakat. Hamidy (1988 : 3 ) mengatakan ;sebelum agama Islam datang orang melayu masih memiliki tradisi yang bersifat Hinduisme dan kepercayaan animisme.Kalau demikian halnya tidak mustahil masyarakat melayu Desa Teluk Lecah Kec.Rupat ini masih memiliki tradisi yang berbau hinduisme,dan paham dinamisme seperti ; ditegur hantu,orang sakit salah tanah,ini dikabarkan oleh dukun,dan masih ada tradisi membela kampong ( kalau tidak disemah kampung akan ditimpa malapetaka).Untuk itu usaha yang harus dilakukan membekali diri anak dengan ilmu Agama,sehingga praktek yang mengarah pada perbuatan syrik dapat dihindari.
7.Keaktifan orang tua mengajarkan anaknya shalat
No Alternatif Jawaban F %
1 Ya.sering 42 28.00
2 Kadang-kadang 92 61,33
3 Tidak pernah 16 10,67
J u m l a h 150 100
Prihal keaktifan orang tua mengajarkan anaknya sholat tebel diatas telihat sangat kurangnya perhatian orang tua,dalam Ajaran Islam telah memberikan petunjuk bawa orang tua berkewajiban membimbing dan mengajari anaknya shalat sewaktu usia tujuh tahun.Tentang diwajibkan orang tua mengajari anaknya sholat Al-quran (Dep.Agama : 665 ) Surat Luqman :17 Artinya : Hai anakku dirikanlah sholat …………….ayakarngt ini cukup jelas memberikan tanggung jawab kepada orang tua untuk mengajarkan anak tentang shalat sedini mungkin .Irman majid (1989 : 118 ) mengatakan bahwa materi pendidikan keluarga setelah menanamkan tauhid adalah latihan shalat serta amar ma’ruf nahi munkar.
8.Tindakan orang tua terhadap anaknya yang meninggalkan shalat
No Alternatif Jawaban F %
1 memukulnya 24 16,00
2 menasehatinya 73 48,67
3 Tidak ada tindakan 53 35,33
J u m l a h 150 100
Dari tabel ini jelas terlihat minimnya tindakan tegas yang dilakuka orang tua terhadap anak yang tidak mau mengerjakan shalat ini.Ajaran Islam mengajarkan dan memberikan pedoman tentang tindakan yang harus dilakukan oleh orang tua sebagai mana tercantum dalam hadist Rasulullah Saw ( dalam terjemahan Shabin :1981 : 278 ) Artinya : Dari Abu Tsurayyah Sabarah bin Ma’bud Al-Juhainny ra berkata Rasulullah Saw bersabda :ajarilah shalat anakmu bila telah berumur tujuh tahun dan pukulah mereka karena meninggalkan shalat bila sudah berusia sepuluh tahun (HR.Abu daud dan at-Tirmidzi )
9.Keaktifan orang tua memantau kegiatan sholat anakanya
No Alternatif Jawaban F %
1 Sering setiap waktu 26 16
2 Kadng-kadang 73 48,67
3 Tidk pernah 53 35,33
J u m l a h 150 100
Tabel diatas menggambarkan kurangnya keaktifan orang tua memantau kegiatan sholat anaknya.Menurut penulis orang tua sebagai pendidik pertama perlu mengawasi kegiatan ibadah anaknya(sholat),dengan pengawasan dan pengontrolan ini orang tua dapat mengetahui hal-hal yang positif,maka ini dapat dikembangkan dan kalau hal yang negetif maka orang tua dapat melakukan perbaikan. Nashih Ulwan (1988 : 124) sudah menjadi kesepakatan memperhatikan dan pengontrolan yang dilakukan orang tua adalah asas pendidikan yang utama terhadap setiap gerak gerik,ucapan,perbuatan.Dan orientasinya jika melihat sesuatu yang baik perlu dihormati dan doronglah anak untuk melakukannya,jika sebaliknya maka cegahlah serta membimbingnya.Jika pendidik melalaikan hal ini tentu anak akan melanggar aturan-aturan agama.
10.Keaktifan orang tua menghindari pertengkaran dihadapan anak
No Alternatif Jawaban F %
1 Menghindarinya 38 25,33
2 Kadang-kadang 87 58,00
3 Tidak pernah menghindarinya 25 16,67
J u m l a h 150 100
Kurangnya perhatian dalam hal menghindari setiap pertengkaran yang terjadi dalam keluarga dilakukan dihadapan anak.Memang rumah tangga yang rukun bukanlah rumah tangga yang tidak ada pertengkaran yang terjadi didalamnya ibarat pepatah “tidak ada gading yang tidak retak”namun orang tua mampu menyikapinya dengan bijaksana dan ini dihindari terjadi dihadapan anak-anaknya. Sobur (1986 : 173) menyatakan suatu hal yang perlu dihindarkan dalam setiap pertengkaran memakai kata-kata makian dan penyiksaan fisik terutam ada anak dihadapanya.
11.Kata-kata yang tidak baik diucapkan orang tua dihadapan anaknya.
No Alternatif Jawaban F %
1 Tidak pernah 42 28,00
2 Kadang-kadang 79 52,67
3 sering 29 19,33
J u m l a h 150 100
Tingginya frekwensi orang tua tidak menghindari ucapan kata-kata yang tidak baik dihadapan anak ini, tanpa disadari oleh orang tua telah menanamkan akhlak yang buruk terhadap anak-anaknya.Ajaran Islam memerintahkan kepada setiap muslim untuk dapat menjaga pembicaraannya karena merupakan suatu kewajiban.Sabda Rasulullah Saw ( dalam Khalik :1998 :78) Artinya : Orang mukmin itu bukanlah orang yang suka mencela,melaknat,buruk perangai dan berbicara kotor”.


12.Sikap orang tua terhadap teman bermain anak-anaknya
No Alternatif Jawaban F %
1 Memilih teman mereka 5 3,33
2 Terserah kepada anak 14 9,33
3 Tidak bersikap apa-apa 131 87,33
J u m l a h 150 100
Tabel ini terlihat masih kurangnya perhatian orang tua terhadap teman sepermainan anaknya,ini disebabkan kurang menyadari bahwa teman sepermainan ini juga akan memberikan pengaruh terhadap pola dan tingkah laku anak.Tidak dipungkiri teman sepermainan bagi anak itu merupakan kebutuhan tetapi permasalahanya orang tua harus memperhatikan siapa teman sepermainan anaknya. (Khalik Hamid : 1988 : 41) mengatakan :” anak membutuhkan kesempatan berhubungan dengan teman-teman supaya mereka mengetahui perbedaan dalam hal keperibadian ini mereka perloeh dalam pergaulan,pada dasarnya bila orang tua memilih teman bermain anaknya berarti mengajarkan kepada mereka bagai mana memilih tanggung jawab dan apabila mereka memilih teman bermain maka orang tua ditugaskan untuk meyakinkan bahwa mereka benar-benar telah memilih teman yang baik”.
SIMPULAN DAN SARAN
Ajaran Islam memerintah kan untuk belajar dan mengajar,keluarga sebagai intiusi pendidikan yang pertama tempat anak menerima pendidikan mempunyai kewajiban untuk mendidik anak-anaknya untuk melaksanakan ajaran Islam dengan memberikan contoh teladan dari orang tua itu sendiri agar kelak anak dikemudian hari menjadi anak yang bermanfaat untuk diri sendiri dan juga orang lain.Penerapan ajaran islam didalam keluarga ini juga akan membentuk anak-anak yang beriman,bertakwa,berahklak mulia dan mampu untuk menghadapi masa depan yang penuh tantangan.
Dari artikel penelitian ini dapat diambil pelajaran untuk orang tua agar dapat menjalakan ajaran Islam dengan konsekwen dan dapat diterapkan didalam keluarga terutama terhadap anak-anak yang diamanahklan oleh Allah.
Bagi Ulama,tokoh masayararakat harus punya perhatian besar agar dapat meningkatkan kualitas keagamaan masyrakat agar kualitas kelu arga yang ada dalam masyarakat meningkat.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Agama RI.1989.Al-quran dan terjemahan,Semarang:Toha putra
Nashih Ulwan,Abdullah.1988.Pedoman pendidikan Anak Dalam Islam .
Bandung : Asy-Syifa.
Arifin .1977.Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama,Jakarta : Bulan
Bintang
D Marimba,Ahmad.1989.Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung : Al-
Ma’arif.
Yusuf Barmawi,Bakir.1993.Pembinaan Kehidupan Beragama pada
Anak.semarang : Bina Utama.
Bolong,Karnedy.1986.Islam Dan Multi Deminsional.Jakarta : PT Bayu Indra
Grafika.
Khalik Hamid,Abdul Hamid.1988.Bimbinglah Anakmu Mengenal Allah. (terj)
Bandung.
Langgulunh,Hasan.1986.Manusia dan Pendidikan.Jakarta : Pustaka Al-Husna
Sitanggang, Helderia.1991.Pola Pengasuhan Anak Secara Tradisional.P&k
Sobur,Alex.1986.Anak Masa Depan.Bandung :Bumi Aksara.
Rahmad, Jalaluddin . 1991. Keluarga Muslim Dalam Masyarakat Moderen. Bandung :Remaja Rosda Karya.
Thaib Usman,Muhammad.1993.Bunga Rampai kebudayaan Melayu. Kuala Lumpur : Dewan Balai Pustaka
Nauqip Al- Attas, Syed Muhammad.1990.Islam Dalam Sejarah dan kebuda -
yaan Melayu.Bandung : Mizan
Hamidy,UU.Ahmad,Muchtar, 1993. Beberapa Aspek Sosial budaya daerah
Riau.Pekanbaru : UIR Press
Zainuddin,dkk.1991.Seluk Beluk Pendidikan Al-Ghazali,Jakart:Bumi Aksara
Daradjat,Zakiah.1976.IlmuJiwaAgama.Cet.IV.Jakarta: Bulan Bintang

artikel filsafat ilmu

(TUGAS INDIVIDU FILSAFAT ILMU)
PROBLEMATIKA KENAKALAN SISWA SMP NEGERI 3 RUPAT
KECAMATAN RUPAT KABUPATEN BENGKALIS
DOSEN : Prof.Dr.Almasdi syahza,SE,MP


OLEH
KELAS : D ( E.mail : rdhan75@gmail.com

PROGRAM PASCA SARJANA
JURUSAN MANAJEMEN PENDIDIKAN
UNIVERSITAS RIAU
2011




BAB I
PENDAHULUAN

Kita menyadari bahwa anak yang manduduki bangku sekolah menengah Pertama (SMP) telah memasuki usia remaja,dalam perkembangan jiwanya mereka sedang mencari jati diri,karena seseorang baru meninggalkan masa anak-anak utnuk menuju masa selanjut yaitu tahap kedewasaan.
Masa remaja (usia SMP) yang juga disebut sebagai masa peralihan,segala persoalan problema yang terjadi pada masa ini,erat kaitannya dengan usia yang mereka lalui dan sangat erat pengaruhnya dengan lingkungan dimana mereka berada.Masa ini juga merupakan masa yang sering ditakuti oleh orang dewasa ( orang tua,guru,dan masyarakat) karena anak pada usia remaja ini mudah dan cepat terpengaruh apa yang terjadi dilingkungannya baik itu dilingkungan masayarakat,keluarga dan sekolah,yang memperihatikan kita jika pengaruh lingkungan itu adalah negatif ini akan sangat berbahaya terhadap perkembangan anak tersebut.
Pada masa usia SMP (masa remaja) terdapat banyak hal baru yang terjadi, dan biasanya lebih bersifat menggairahkan, karena hal baru yang mereka alami merupakan tanda-tanda menuju kedewasaan.Dari masalah yang timbul akibat pergaulan, keingin tahuan tentang asmara dan seks, hingga masalah - masalah yang bergesekan dengan hukum dan tatanan sosial yang berlaku di sekitar remaja.
Bagi sebagian besar orang yang baru berangkat dewasa bahkan yang sudah melewati usia dewasa, remaja adalah waktu yang paling berkesan dalam hidup mereka. Kenangan terhadap saat remaja merupakan kenangan yang tidak mudah dilupakan, sebaik atau seburuk apapun saat itu. Sementara banyak orangtua yang memiliki anak berusia remaja merasakan bahwa usia remaja adalah waktu yang sulit. Banyak konflik yang dihadapi oleh orangtua dan remaja itu sendiri. Banyak orangtua yang tetap menganggap anak remaja
1

mereka masih perlu dilindungi dengan ketat sebab di mata orangtua para anak remaja mereka masih belum siap menghadapi tantangan dunia orang dewasa. Sebaliknya, bagi para remaja, tuntutan internal membawa mereka pada keinginan untuk mencari jatidiri yang mandiri dari pengaruh orangtua. Keduanya memiliki kesamaan, yaitu bahwa remaja adalah waktu yang kritis sebelum menjalani hidup sebagai orang dewasa. Mengapa para remaja seringkali merasa tidak dimengerti dan tidak diterima oleh lingkungan sekitarnya? Mengapa remaja seolah-olah memiliki masalah unik dan tidak mudah dipahami?MasaRemajaMasa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia yang batasannya usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Pubertas yang dahulu dianggap sebagai tanda awal keremajaan ternyata tidak lagi valid sebagai patokan atau batasan untuk pengkategorian remaja sebab usia pubertas yang dahulu terjadi pada akhir usia belasan (15-18) kini terjadi pada awal belasan bahkan sebelum usia 11 tahun. Seorang anak berusia 10 tahun mungkin saja sudah (atau sedang) mengalami pubertas namun tidak berarti ia sudah bisa dikatakan sebagai remaja dan sudah siap menghadapi dunia orang dewasa. Ia belum siap menghadapi dunia nyata orang dewasa, meski di saat yang sama ia juga bukan anak-anak lagi.
Jelas sudah bagi kita tentang keadaan usia SMP (remaja) dengan berbagai tingkat perkembangannya.Di SMP Negeri 3 rupat problematika kenakalan remaja untuk ukuran siswa-siswa yang ada diperdesaan bahkan termasuk daerah IDT (Inpres Desa Tertinggal)sehingga tenaga guru PNS mendapat tunjangan khusus.kenakalan siswa tidak hanya berlaku dilingkungan sekoloh akan tetapi sudah merembes kekehidupan masyarakat walaupun tidak separah kenakalan-kenakalan siswa yang berada diperkotaan namun ini sudah cukup memperihatikan jika hal ini tidak ditangani secara serius akan berakibat patal bagi perkembangan siswa untuk menuju masa depannya yang lebih baik
dan juga menghambat prestasi siswa dalam berlajar.

2



Kenakalan-kenakalan siswa yang terjadi dilingkungan sekolah diantaranya :
1.Merokok
2.HP yang didalam nya ada gambar-gambar porno
3.Melakukan pemerasan
4.tidak masuk kelas pada-mata pelajaran tertentu
5.sering tidak hadir kesekolah
Kenakalan siswa yang terjadi didalam masyarakat,yang terlihat jelas di iantaranya :
1.sering keluar malam
2.ada yang meminum minuman keras
3.Menghisap lem
4.mengambil hak orang lain
Dari hal diatas walaupu ini tidak dilakukan oleh banyak siswa akan tetapi dilakukan sebagian kecil .ini juga cukup berbahaya jika tidak ditangani dengan segera dikhawatirkan akan banyak membawa pengaruh terhadap siswa- siswa yang lain,karena pengaruh lingkungan teman bermain ini tidak bisa diabaikan begitu saja.Untuk jelasnya akan dibahas pada bab berikut
Tentang bagai mana solusi terhadap problematika kenakalan siswa SMP Negeri 3 rupat Kabupaten Bengkalis.

3


BAB II
PEMBAHASAN

Pembangunan nasional tidak dapat diselesaikan dalam satu atau dua generasi, tetapi harus dilakukan secara berkelanjutan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pembangunan Indonesia pembangunan manusia seutuhnya sebagaimana tercantum dalam GBHN (1993:11) :
“Hakikat Pembangunan Nasional adalah pembangunan manusia seutuhnya, dengan Pancasila sebagai dasar, tujuan dan pedoman Pembangunan Nasional. Pembangunan Nasional dilaksanakan merata di seluruh tanah air dan tidak hanya satu golongan atau sebagian dari masyarakat, serta harus benar-benar dirasakan seluruh rakyat sebagai perbaikan tingkat hidup yang berkeadilan sosial, yang menjadi tujuan dan cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia”.
Dalam pemikiran tersebut, betapa pentingnya generasi muda masa kini yang akan mengambil tongkat estafet pelaksanaan pembangunan yang tangguh. Namun siswa kita sekarang ini nyaris menjadi masalah Nasional yang kritis. bukan rahasia lagi kenakalan siswa di kota-kota besar dewasa ini merembet ke kampung-kampung dan desa-desa. Para siswa banyak melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa, seperti laki-laki memakai kalung, giwang, gelang dan rantai yang berlebihan dan juga pergaulan yang tanpa batas di kalangan siswa yang makin meluas itu merupakan goncangan kultural yang mengancam generasi masa depan bangsa. Kurangnya wibawa dan peranan orang tua dalam pendidikan, serta penggunaan waktu luang yang tidak efektif dikalangan siswa, itu semua merupakan masalah kita.
Masa depan generasi kita banyak yang dibebankan pada dunia pendidikan, sebab pada dasarnya pendidikan adalah tempat penempatan manusia untuk masa depannya. Pelaksanan pendidikan itu perlu dimulai dari pendidikan dalam keluarga. Keluarga sebagai persekutuan hidup dalam unit kecil, adalah merupakan lingkungan pendidikan utama yang banyak memberikan pengaruh mendalam terhadap kepribadian anak.
Shihab (1993:255) mengatakan keluarga adalah umat yang terkecil yang memiliki pimpinan dan anggota ,mempunyai pembagian tugas dan kerja serta
4
hak-hak dan kewajiban masing-masing anggota. Langgulung (1986:374) menyatakan hal yang senada bahwa keluara merupakan organisasi sosial yang terkecil dan tempat pendididikan anak yang pertama.
Dari dua pandangan diatas menurut penulis keluaraga itu adalah tempat awal atau pertama proses pendidikan itu berlangsung,oleh sebab itu haruslah keluarga mengambil berat tentang pendidikan ini dengan membekali anak-anak akhlak-ahklak mulia dengan pemberian contoh yang baik yang dilakukan oleh orang tua sebagai pendidik yang pertama.
Dalam makalah ini penulis lebih banyak meninjau peran dan fungsi keluarga dalam mengatasi problematika siwa lebih menitik beratkan menurut tinjauan ajaran islam,karena ajaran islam banyak memberikan solusi dalam mengatasi permaslahan kenakalan ini. Marwah (1994:207) bahwa keluarga mempunyai peranan penting yaitu :
1.Sebagai “educator dan Role model “ maksudnya orang tua menjadi pendidik inti dari anak anaknya yang memberikan contoh-contoh teladan yang baik
Terhadap anak-anaknya dan pelaziman yang dilakukan secara konsisten.
2.Sebagai “motivator “ maksudnya orang tua perlu memberikan motivasi kepada anak-anaknya untuk mempertajam kepekaan mereka terhadap ajaran agama misalnya tentang akhlak.
3.Sebagai “selector” maksudnya orang tua membantu menyaring imformasi yang diserap oleh anak-anaknya,misalnya program Televisi (baik atau tidaknya),teman bermain,serta budaya-budaya yang merusak jiwa anak.
4.Sebagai ”fasilisator” maksudnya kelurga diharapkan mempaslitasi perkembangan-perkembangan anaknya kearah yang lebih baik.
Sudjana (Dalam Rakhmat : 1993:53) membahas dua peranan utama keluarga:
1.Keluarga sebagai pendidik ; satuan pendidikan meliputi pembinaan hubungan dalam keluarga,pemeliharaan dan keseharan anak,pendidikan anak dalam keluarga,serta sosialisasi anak hubungannya antara keluarga dan masyarakat.
2.Keluarga sebagai da’i (pendakwah); keluaga berperan mendorong anggota keluarga melakukan kebaikan dan melarang kemungkaran sehingga tercapainya kebahagiaan dunia maupun akhirat.
5

Rahmat (1986:121) membagi fungsi keluarga sebagai berikut :
1.fungsi Ekonomis ;keluarga merupakan satuan sosial yang mandiri ,dimana anggota keluarga mengkonsumsi barang yang beraneka ragam
2.fungsi sosial ;keluarga memberikan prestise dan status didalam keluarga
3.Fungsi protetif; keluarga melindungi anggota keluarganya dari ancaman fisik,jiwa,ekonomis dan sosial.
4.fungsi relegius ; keluarga memberikan pengalaman keagamaan pada anggota keluarganya
5.fungsi educatif ; memberikan pendidikan kepada anak-anaknya
6.fungsi rekrreatif ; keluarga merupakan pusat rekreasi yang menyenangkan bagi anggota keluarganya.
7.fungsi efektif ; keluarga merupakan pusat kasih sayang dan keturunan.
Dari pandangan diatas disini penulis melihat bahwa keluarga juga mempunyai peran dan fungsi yang bukan hanya tempat melahirkan anak,akan tetapi keluarga ibarat sebuah mesjid tempat memberikan pengalaman beragama pada anak,sebagai sebuah madrasah yang menanamkan norma-norma agama serta pemeberian contoh dan tauladan yang baik,sebagai sebuah rumah sakit tempat memelihara dan merawat kesehatan jasmani dan rohani anggota keluarganya.Atas dasar ini juga siwa bukan hanya tanggung jawab sepenuhnya diberikan pada lembaga pendidikan,namun keluargalah pemegang peran utama dalam hal pendidikan,karena keluarga merupakan mata rantai dalam proses pendidikan yang sama sekali tidak dapat dipisahkan.
Ajaran Islam memberikan tanggung jawab ini kepada keluarga terhadap pendidikan anak-anaknya sebagai mana firman Allah SWT dalam QS:At-tahrim : 6 yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. Dari ayat ini orang tua mempunyai peranan yang sangat penting atas bahagia atau celakanya anak-anak mereka baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat.

6



Terjadinya penyimpangan siswa SMP 3 Rupat didalam masyarakat mayoritas muslim,lebih disebabkan oleh lingkungan teman bermain siswa tersebut yang kurang diperhatikan oleh orang tua sehingga terjadinya kenakalan-kenakalan tersebut.Tidak dipungkiri bahwa teman sepermainan bagi anak itu penting karena anak membutuhkan sahabat dan teman,yang diharapkan dapat memberikan pengaruh positif yang saling mengisi diantara mereka,tetapi yang menjadi persoalan yang perlu diperhatikan olah orang tua siapa yang menjadi teman sepermainannya. Hamid (1988:41) meyatakan : “ anak membutuhkan kesempatan berhubungan dengan teman-teman supaya mereka mengetahui perbedaan-perbedaan dalam hal keperibadian, pada dasarnya jika orang tua memilih teman bermain anaknya berarti mengajarkan pada mereka untuk memikul tanggung jawab dan kalau orang tua memberikan kebebasan untuk memilih teman sepermainan,maka orang tua mempunyai tugas untuk meyakinkan mereka benar-benar telah memilih teman yang baik”
Jadi orang tua dituntut untuk betul-betul memperhatikan teman sepermainan anak-anaknya,yakni dengan menjahui anaknya berteman dengan teman yang merusak dan tempat yang merusak, sehingga kenakalan-kenakalan dapat dihindari. Jadi solusi yang cukup efektif untuk mengatasi kenakalan terhadap siswa SMP Negeri 3 rupat peran orang orang tua sangat lah penting,dan juga perlu ditingkat kan kerja sama pihak sekolah dalam meghadapi problematika ini. hal harus dilkukan dalam tiga hal yaitu :
1.orang tua selalu meminta informasi dari pihak sekolah tentang perkembangan perilaku maupun perkembangan belajar anak-anaknya.
3.orang tua harus selalu memberikan imformasi tentang perkembangan perilaku dan perkembangan belajar anaknya dalam keluarga kepada pihak sekolah.
2.orang tua selalu menjalin hubungan yang harmonis dengan pihak sekolah.


7



Yang tidak kalah pentingnya masayarakat dimana tempat atau lingkungan siswa itu berdomisili yang tidak harus menutup mata,karena masih ada sebagian kecil masyarakat jika terjadi kenakalan dikalangan siswa ini pihak sekolah yang menjadi kambing hitamnya yang menurut mereka sekolah tidak mampu untuk memperbaiki moral atau akhlak siswa,menurut penulis ini disebab ketidak tahuan mereka tentang tanggung jawab pendidikan ini juga terpikul pada bahu masyarakat.Keberhasilan sebuah pendidikan sangat ditentukan oleh tiga hal :
1.Lingkunagn keluarga tempat pendidikan pertama .
2.sekolah atau lembaga pendidikan yang merupakan keluarga kedua bagi siswa
3.Lingkungan masyarakat dimana tempat siswa tersebut tinggal dan menghabiskan sebagian besar waktunya.
Tiga komponen diatas hakekat ibarat sebuah mata rantai yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain karena semua itu saling mempengaruhi,kalau ketiga komponen ini berjalan serentak, tidak salah kalau kita katakan kenakalan siswa ini dapat kita atasi dengan mudah.
Dalam mengatasi kenakalan siswa di SMP 3 Rupat, masyarakat harus punya kepedulian atau mengambil peran penting
dalam menanggulangi kenakalan remaja antara lain dengan:
1.Memberi nasihat secara langsung kepada anak yang bersangkutan agar
anak tersebut meninggalkan kegiatannya yang tidak sesuai dengan
seperangkat norma yang berlaku, yakni norma hukum, sosial, susila dan
agama.
2.Membicarakan dengan orang tua/wali anak yang bersangkutan dan
dicarikan jalan keluarnya untuk menyadarkan anak tersebut.
3.Langkah yang terakhir, masyarakat harus berani melaporkan kepada
pejabat yang berwenang tentang adanya perbuatan kenakalan yang sudah

8


Mengarah pada tindakan melawan hukum ,ini agar dapat segera dilakukan
Langkah-langkah prepentif.
Usaha lain yang tidak kalah pentingnya yang harus dilakukan masyarakat melalui tokoh-tokoh agama yaitu dengan memperbayak kegiatan pengajian atau majelis taklim dimana remaja sebagai sasaran utamanya.Dengan kegiatan ini dapat membekali diri siswa dengan pengetahuan agama,baik itu aqidah,ibadah dan akhlak sehingga ini dapat mengatasi kenakalan siswa yang berada dalam lingkungan masyarakat.
Kenakalan siswa yang terjadi dilingkungan sekolah,guru dan seluruh komponenem sekolah megang peranan penting dalam mengatasi hal ini,Oleh karena itu, sekolah sebagai lembaga pencetak generasi penerus bangsa, seharusnya dapat membuat generasi yang berkepribadian baik, bermoral, dan bertanggung jawab. Sehingga pantas menjadi calon pemimpin dimasa yang akan datang.Dan guru, sebagai salah satu komponen dari lembaga tersebut, seharusnya bukan hanya menitik beratkan pada transfer ilmu kepada siswanya tetapi juga harus bisa membentuk karakter siswa yang jauh dari hal-hal negatif, sehingga pantas menjadi calon pemimpin di masa yang akan datang, bukan membentuk generasi “rusak” yang penuh dengan kenakalannya.
Menurut penulis sebagai seorang guru,dalam mengatasi kenakalan siswa harus proaktif yang dimulai dari pribadi guru itu,adapun peran yang harus dilakukan antara lain :
1.guru harus menjadi rool model bagi siswa
2.guru harus selalu memotivasi siswa dan mengembangkan potensi yang dimiliki siswa.
3.guru harus mampu menciptakan suasana pembelajaran yang
Menyenangkan bagi siswa.

9


4.guru harus cepat tanggap terhadap permasalahan-permasalahan
yang dihadapi siswa.
5.guru harus mampu menjalin kerja sama dengan wali murid dengan
Memberikan informasi tentang perkembangan siswa.
6.guru harus mampu menjadi penasehat yang terbaik dalam mem –
bimbing siswa.
Secara kelembagaan ( sekolah ),untuk mengatasi kenakalan siswa SMP Negeri 3 Rupat telah membuat beberapa kebijakan,dengan membuat peraturan-peraturan yang langsung berkerja sama dengan komite sekolah untuk mengatasi problematika kenakalan siswa ini secara umum antara lain :
1.bagi siswa yang kedapatan merokok ini langsung dipanggil wali murid
2.bagi siwa yang melanggar disiplin sekolah diberikan sanksi yang sesuai
dengan tingkat pelanggarannya
3.mengadakan program keagamaan seperti kelas fardhu a’in,muhdarah.
4.memanggil pihak keamanan setempat untuk memberikan penyuluhan
hukum kepada siswa.
5.terhadap siswa yang tidak dapat dibina akan dikembalikan kepada orang
tuanya.
6.memberikan informasi perkembangan siswa kepada orang tua.
Untuk mengatasi kenakalan-kenakalan siswa ini,tidak bisa dilakukan hanya satu pihak,seluruh kompenen yang mempunyai pengaruh besar terhadap perilaku siswa harus saling berkerja sama,baik itu keluarga,masayarakat dan pihak sekolah,kalau ketiga komponen ini berjalan dengan baik tidak mustahil masalah kenakalan siswa ini dapat teratasi baik yang terjadi dilingkungan sekolah maupun dilingkungan masyarakat.


10



BAB III
KESIMPULAN

Dari pembahasan makalah ini maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1.Kenakalan siswa atau perilaku menyimpanng ini diakibatkan proses perkembangan jiwa dalam mencari jati dirinya
2.Faktor yang paling dominan yang menyebabkan siswa (SMP N 3 Rupat) melakukan tindakan kenakalan sangat dipengaruhi oleh lingkungan terutama teman sepermainan.
3.Untuk mengatasi kenakalan siswa ,peranan orang tua sebagai lembaga pendidikan pertama sangatlah diutamakan,demikian juga masayarakat
4.lembaga pendidikan harus menangani kenakalan siswa secara serius dan kontiniu dengan melakukan kerja sama dengan berbagai pihak ; keluarga,masyrakat,tokoh-tokoh agama,pemerintahan Desa dan Aparat keamanan setempat

Daftar Pustaka :
Depag .1989.Al-quran dan Terjemahan . Semarang : Toha Putra
GBHN 1993
Hamid Khalik, Hamid Abdul.1988.Bimbing Anakmu Mengenal Allah.jakarta
Langgulung,Hasan.1986. Manusia dan Pendidikan.Jakarta :Pustaka Al-Husna
Daud Ibrahim,Marwah.1994.Teknologi Emansifasi dan Transendensi.Bandung
Mizan
Rahmat,Jalaluddin.1991.Islam Alternatif .Bandung : Mizan
Rahmat,Jalaluddin dan Mukhtar Gandatmaja(peny).1993.Keluarga Muslim
Dalam Masyarakat Moderen.Bandung : Rosda Karya